TRENGGALEK: Aktivitas gempa sporadis yang dirasakan masyarakat pesisir selatan Trenggalek, Tulungagung, dan
Ponorogo diprediksi dapat memicu gempa besar akibat pergerakan patahan Grindulu, salah satu patahan terbesar di
selatan Pulau Jawa yang berada di Kabupaten Pacitan.
Asumsi itu secara teoretis diungkapkan Kepala Bidang Mitigas Gempa dan Bencana
Geologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG), Gede Swastika, seperti dikutip Antara Kamis (24/2) disela-sela kegiatan pemasangan alat pendeteksi gempa (seismograf) di Desa
Dukuh, Kecamatan Watulimo.
“ Secara teori kemungkinan itu bisa terjadi, tapi kami akan pelajari dulu hasil penelitian yang saat ini masih berlangsung termasuk kemungkinan adanya aktivitas tektonik di sekitar patahan Grindulu,” katanya.
Jika aktivitas pada salah satu patahan besar Pulau Jawa itu
benar-benar terjadi, efek gempa dengan skala lebih besar
bisa terjadi dengan area getaran meluas. Hal itu sebagai akibat pergerakan retakan pada sisi lempeng bumi yang berada
di sisi selatan Pulau Jawa sebagaimana pernah terjadi pada aktivitas Sesar Opak yang menyebabkan gempa berskala besar kawasan pesisir selatan Yogyakarta, akhir tahun 2004 silam.
Namun Gede Swastika tidak mau buru-buru mengambil
kesimpulan tersebut. Meski mengakui adanya aktivitas tektonik pada sebagian besar kawasan Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, dan di daerah-daerah di sekitar lereng Gunung
Wilis, menurutnya bagian daro skenario pergerakan pada patahan Grindulu di Pacitan masih harus dipelajari lebih lanjut dengan melakukan survei lapangan di sekitar jalur patahan.
Home » fenomena
Tampilkan postingan dengan label fenomena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fenomena. Tampilkan semua postingan
Suara gemuruh di ponorogo meluas ke tulungagung dan malang

Suara gemuruh misterius di
Kabupaten Ponorogo meluas hingga ke Trenggalek dan Tulungangung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat sedikitnya ada lima kabupaten yang kini merasakan fenomena aneh tersebut.
Berdasarkan laporan tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencara Geologi (PVMBG) yang diterjunkan di sekitar lokasi, fenomena itu juga terasa hingga di kawasan Malang.
"Merata mulai Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar,
hingga Malang. Pokoknya yang berada di sepanjang
pegunungan di pinggir laut Selatan," kata Siswanto, BPBD Jawa Timur seperti dikutip tempointeraktif, Kamis (24/2/2011).
Siswanto memastikan, suara
gemuruh dan dentuman yang
terjadi di Trenggalek dan Ponorogo tidak ada kaitannya dengan aktivitas pergerakan magma di Gunung Wilis. Sebab, suara gemuruh itu bergerak terus dan tidak hanya terasa di sekitar lereng Gunung Wilis.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat agar mewaspadai terhadap fenomena alam yang akan muncul.
Kepala Bagian Humas Pemkab Tulungagung, Maryani menuturkan, sudah ada lima desa di Kecamatan Besuki yang melaporkan suara dentuman tersebut. Masing-masing adalah Desa Siyoto Bagus, Kebo Ireng, Sedayu Gunung, Tanggul Turus, dan Desa Besuki.
Fenomena itu sudah muncul sejak seminggu terakhir. Camat setempat telah meneruskan laporan warga tersebut ke Bupati Tulungagung. Berdasar laporan warga di kelima desa itu, Pemkab Tulungagung kemudian telah membuat laporan ke Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Tretes serta Pemprov Jawa Timur.
Menurut Maryani, Pemkab Tulungagung belum mengambil langkah apa pun terkait fenomena itu, selain mengimbau warga untuk waspada. "Kami hanya berharap agar tim peneliti segera turun ke Tulungagung, untuk memastikan sumber dentuman dan getaran tersebut. Apakah memang satu rangkaian dengan yang di Treggalek, atau berdiri sendiri," ujarnya.
Mitos air kurasan gentong raja mataram
Yogyakarta berebut air sisa
kurasan enceh (gentong) di
Puralaya, Kompleks makam raja-
raja Mataram di Pajimatan,
Imogiri, Bantul. Mereka percaya
air itu mendatangkan berkah
dan menyembuhkan penyakit.
Ritual menguras enceh ini
memang selalu dilakukan setiap
tahun, tepatnya setiap hari
Jumat Kliwon di Bulan Sura.
Berdasarkan penanggalan Jawa,
upacara tersebut jatuh pada
hari ini, Selasa 28 Desember
2010. Upacara digelar di depan
pintu masuk makam Raja Sultan
Agung.
Prosesi Nguras Enceh dimulai
pukul 09.00 WIB. Acara dibuka
dengan kenduri dan pembacaan
doa bersama yang dipimpin
sesepuh jurukunci Puralaya
Imogiri.
Acara kemudian dilanjutkan
pencucian empat enceh Nyai
Danumurti, Kyai Danumaya,
Kyai Mendung dan Nyai Siyem.
Proses pencucian ini juga
diawali dengan doa bersama di
hadapan keempat enceh yang
terletak di depan gerbang
makam Sultan Agung.
Abdi dalem Kraton Surakarta
melakukan ritual di depan
enceh Kyai Mendung yang
berasal dari Ngerum (Romawi)
dan enceh Nyai Siyem (Siam).
Sedang abdi dalem
Ngayogyakarta bertugas
membersihkan enceh Kyai
Danumurti dan enceh Kyai
Danumaya yang berasa dari
Palembang.
Usai pembacaan doa, para abdi
dalem Surakarta terlebih dahulu
mengisi dua buah enceh Kyai
Mendung dan Nyai Siam.
Setengah jam berikutnya, para
abdi dalem Ngayogyakarto
mengisi enceh Kyai Danumaya
dan Nyai Danumurti.
Air yang melebur dari enceh
itulah yang kemudian
diperebutkan warga. Banyak
warga yang langsung
mengusap tangan di badan
enceh kemudian mengelap di
kening, kepala dan tengkuk.
Sebagian lagi memasukkannya
ke dalam botol bekas air minum
untuk dibawa pulang. Tapi
banyak pula yang langsung
meminumnya, padahal air
tersebut masih mentah.
"Air dari enceh ini dipercaya
membawa berkah dan
menyembuhkan berbagai
penyakit bagi yang
mempercayainya,
” kata Nyoto,
salah seorang warga
Kecamatan Imogiri, Kabupaten
Bantul, DIY, Selasa, 28 Desember
2010
Salah seorang abdi dalem
Puralaya Sultan Agung
Hanyokrokusumo, KRT
Suryonegoro mengatakan,
prosesi menguras atau
membersihkan enceh ini
dilakukan sejak Senin malam.
Pada pagi harinya, dilakukan
pengisian kembali enceh
dengan air yang diambil dari
mata air Bengkung, Dlingo,
sekitar 6 kilometer arah timur
makam Imogiri.
” Yang diperebutkan warga
adalah air sisa kurasan yang
telah bercampur dengan yang
diambil dari mata air. Dulu
keempat enceh itu berfungsi
sebagai tempat wudhu,
”
ujarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
